PEMANFAATAN AIR HUJAN SEBAGAI AIR
LAYAK KONSUMSI DI KOTA MALANG DENGAN METODE MODIFIKASI FILTRASI SEDERHANA
ABSTRAK
Air merupakan kebutuhan vital
bagi makhluk hidup sedangkan ketersediaan air bersih secara kuantitas dan
kualitas rendah. Hujan dapat menjadi solusi namun butuh pengolahan lebih.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas dari rancangan pengolahan
filtrasi yang dimodifikasi dan mengetahui karakteristik fisik, kimia, dan
biologi dari air hujan Kota Malang yang dibandingkan dengan air hasil filtrasi
air hujan dan standar baku mutu sesuai dengan Persyaratan Kualitas Air Bersih
dari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:
416/MENKES/PER/IX/1990. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif
kualitatif dengan tahap yaitu penampungan air hujan, preparasi pipa dan media
filter kemudian air hujan difiltrasi. Karakteristik fisik, kimia dan biologi
air hujan di Kota Malang memenuhi standar baku mutu air bersih dari Permenkes
RI Nomor: 416/MENKES/PER/IX/1990 dan hasil lebih optimal menurunkan beberapa
parameter dengan teknologi filtrasi termodifikasi. Rancangan pengolahan
filtrasi yang dimodifikasi cukup efektif dalam memperbaiki akarakteristik air.
Kata kunci: Air
Bersih, Air Hujan, Filtrasi, Modifikasi
PENDAHULUAN
Air merupakan kebutuhan vital
bagi seluruh makhluk hidup. Peningkatan taraf hidup manusia sejalan dengan
kebutuhan air yang meningkat pula sehingga dituntut ketersediaan air yang
berkualitas. Diperkirakan lebih 2 milyar manusia/hari terkena dampak kekurangan
air di dunia [1]. Di Indonesia, jumlah penduduk lebih dari 200 juta namun 119
juta penduduk belum memiliki akses terhadap air bersih layak konsumsi sedangkan
kebutuhan
diperkirakan
meningkat hingga 15-35%/kapita/tahun [2]. Permasalahan di Kota Malang adalah
kehilangan air pada Tahun 2000 akibat kebocoran pada pipa sebesar 42% atau
967.99 L/hari sedangkan kebutuhan persediaan air bersih pada Tahun 2011 sebesar
17.423.791 L/hari. Masalah lain adalah pelayanan yang rendah sebesar 34.30%
serta semakin marak penggundulan hutan yang mengakibatkan debit sumber air
terus menurun. Air hujan bisa menjadi solusi dari permasalahan krisis air bersih.
Sifat air hujan tergolong murni sebelum mencapai tanah sehingga rendah
mikroorganisme dengan sifat kimia pH 5-7 dan konsentrasi mineral serta logam
berat rendah [3]. Filtrasi sederhana adalah teknologi penyaringan dengan
berbagai macam media (multi-filter) seperti seperti kerikil, pasir, ijuk. Hal
ini dapat dimodifikasi agar hasil lebih optimal menggunakan media adsorpsi
seperti Granular Activated Carbon (GAC) dan zeolit. Padatan terlarut,
mikroorganisme, mineral, dan logam berat dalam air hujan akan teradsorpsi dalam
GAC dan zeolit [4]. Teknologi ini dapat dijadikan solusi bagi masyarakat karena
pengolahan sederhana dengan alat dan bahan tersedia di alam, pengoperasian
mudah serta biaya murah.
BAHAN DAN METODE
Alat
Peralatan
yang digunakan dalam perancangan adalah pipa Maspion D 6”, pipa PVC ½”, pipa
dop D 6”, stop keran PVC, lem PVC, jurigen 2 L dan 25 L. Peralatan yang
digunakan dalam analisis adalah temperatur meter, turbidimeter, pH meter,
spektrofotometer, pipet volume, pipet ukur, mikro pipet skala, pipet autometik,
kertas saring, beaker glass, buret, labu erlenmeyer, gelas ukur, labu ukur,
oven pemanas, hot plate, muffle, timbangan analitik, cawan penguap, desikator,
peralatan destilasi, tabung destilasi, autoclave, inkubator, tabung reaksi,
tabung durham, rak tabung, wire loop (ose), kapas, pembakar bunsen, kertas
coklat, termometer.
Bahan
Bahan yang
digunakan pada penelitian ini adalah air hujan yang didapat dari beberapa
bagian Kota Malang seperti daerah Kecamatan Lowokwaru, Kecamatan Sukun,
Kecamatan Kedung kandang, Kecamatan Blimbing dan Kecamatan Klojen dari awal
musim hujan (Bulan Desember 2013) sampai akhir musim hujan (Bulan Mei 2014).
Bahan pendukung lain adalah pasir halus 20 up mesh, pasir kasar 4 - 8 mesh,
kerikil kecil 8 - 16 mesh, kerikil besar 16 – 32 mesh, GAC (Granular Carbon
Actived) 6 – 8 mesh, zeolit 16 – 32 mesh, ijuk/ serabut kelapa, spon dan
kapas. Bahan yang diperlukan untuk analisis adalah standar formazin 5 NTU, 400
NTU, larutan induk warna 500 skala Pt-Co, larutan baku kerja, H2SO4 pekat, 0.20
N, 1 N, 8 N, (COOH)2 0.10 N, 0.01 N, KmnO4 0.10 N, 0.01 N, chloramine-T, stock
sianida 1000 mg/L, standar sianida 10 mg/L, reagen Pyridine Barbituric Acid,
buffer asetat, NaOH 0.04 N, 1 N, MgCl2, NH2SO3H, lactose broth, bubuk
Briliant Green bile Broth, buffer fosfat, larutan pepton 0.10%, garam faali,
larutan pereduksi, penetral chlorin, asam fosfat 85%, sulfanilamid,
N-(1-naphthyl)-ethylenediamine dihydrochloride), larutan nitrit, HCl pekat, 1
N, 5 N, NH4OH, larutan stok Krom Val 6, diphenyl carbazide, HNO3 pekat, H3PO4 pekat,
larutan stok LAS (linier Alkilat Sulfonat), larutan standart LAS (Linier
Alkilat Sulfonat), larutan phenolphtalin, larutan phenolphtalin 0.50%, melitin
biru, larutan pencuci, chloroform CHCl3, air bebas nitrat, larutan stok nitrat,
larutan nitrat intermedit, Na-EDTA, buffer pH 10, EBT, mureksid, alizarin
merah, asam zirkonil, larutan standar fluorida, NaCl 0.01 N, indikator K2CrO4 5%,
AgNO3 0.0141 N, phenolphthalen 0.50%, H2O2 30%, Al(OH)3, BaCl2, Na2SO4, buffer
A, buffer B, gas acetyline, gas argon, gas nitrous oxide, gas synthetic, NaBH4,
asam askorbat 0.50%, KI 0.50%, palladium nitrat 1 mg/lt, lantanum oxide 1%,
standart logam, LaCl3, standart logam.
Pelaksanaan Penelitian
Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan
tahapan pelaksanaan penelitian sebagai berikut
1. Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dengan
metode purposive sampling. Sampel air hujan ditampung di 10 titik bagian
Kota Malang (setiap kecamatan diambil 2 titik) dengan waktu penghujan awal
musim hujan (bulan Desember 2013) sampai akhir musim hujan (bulan Juli 2014).
2. Preparasi Pipa Filter [5]
Pipa PVC 6” dipotong sepanjang
125 cm sebagai pipa filter dan 30 cm sebagai pipa penampung. Ujung pipa akan
ditutup dengan dop PVC 6”. Tutup dop di pipa filter akan dilubangi dan diberi
pipa PVC ½” dan diberi stop keran PVC. Salah satu sisi pada pipa filter dan
pipa penampung akan dilubangi dan ditempel pipa PVC ½” sebagai panyalur antara
pipa filter dengan pipa penampung.
3. Preparasi Media Filter
[5]
Pasir kasar diayak dengan ayakan ± 4 - 8 mesh dan pasir
halus diayak dengan ayakan ± 20 up mesh. Pasir halus, pasir kasar, kerikil
kecil, kerikil besar, GAC (Granular Activated Carbon) dan zeolit dicuci
hingga bersih dengan air bersih mengalir kemudian dikeringkan dengan panas
matahari hingga kering.
4. Penyusunan Filter
Setiap media akan disusun
dengan susunan dari atas ke bawah pada pipa seperti berikut:
a.
Spon dan kapas dengan tinggi total lapisan 10 cm.
b.
Zeolit dengn tinggi lapisan 15 cm.
c.
Spon dan ijuk dengan tinggi 15 cm.
d.
GAC (Granular Activated Carbon) dengan tinggi lapisan 15 cm.
e.
Spon dan ijuk dengan tinggi lapisan 15 cm.
f.
Kerikil kecil dengan tinggi lapisan 10 cm.
g.
Pasir kasar dengan tinggi lapisan 10 cm.
h. Pasir halus dengan tinggi
lapisan 15 cm
i. Spon dan kapas Kerikil besar
dengan tinggi lapisan 15 cm.
5. Filtrasi Air Hujan [5]
Air hujan dari 10 titik lokasi
penampungan (2.50 L setiap lokasi) akan dicampur menjadi satu. 12.50 L air
hujan dialirkan ke pipa filter melewati media filter. Air hujan mengalami
kontak dengan media selama 10-15 menit.
6. Karakterisasi Air Hujan
dan Air Hasil Filtrasi Termodifikasi
Air hujan dan air hasil filtrasi termodifikasi diuji sifat
fisik, kimia, dan biologi dari parameter wajib Kualitas Persyaratan Air Bersih
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 416/MENKES/PER/IX/1990.
Analisis fisik meliputi TDS (Total Disolved Solid), kekeruhan, warna,
rasa, dan suhu serta organoleptik berupa aroma dan warna. Analisis kimia
meliputi raksa, arsen, besi, fluorida, kadmium,kesadahan, klorida, krom,
mangan, nitrat, nitrit, pH, selenium, seng, sianida, sulfat, dan timbal.
Analisis biologi meliputi total koliform.
Analisis Penelitian
a.
Temperatur dengan Metode Termometri
b.
Kekeruhan dengan Metode Nephelometri
c.
Warna dengan Metode Spektofotometri
d.
pH dengan Metode Elektrometri
e.
Permanganat dengan Metode Oksidasi Dalam Suasanan Asam
f.
Total Zat Padat Terlarut/Total Dissolved Solid (TDS) dengan Metode Gravimetri
g.
Sianida dengan Metode Kolorimetri
h.
Bakteri Total Coliform Metode Tabung Ganda
i.
Nitrit Metode Asam Sulfanilat
j.
Bau Metode Organoleptik
k.
Krom Val 6 Metode Kolorimetri
l.
Deterjen Metode Metilen Biru
m. Nitrat Metode Spektofometri
n.
Kesadahan Total Metode Kompleksometeri
o.
Fluorida Metode Alizarin Merah
p.
Klorida Metode Argentometrik Mohr
q.
Sulfat Metode Turbidimetri
r. Logam (Hg, As, Se, Cd, Fe,
Mn, Zn, Pb) Metode Spektrofotometer
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Rancangan Pengolahan
Filtrasi
Konsep dasar dari pengolahan
air dengan cara penyaringan adalah memisahkan padatan dan koloid dari air
dengan alat penyaring atau saringan. Salah satu faktor mempengaruhi filtrasi
adalah diameter media. Semakin halus butiran yang digunakan sebagai media
penyaring, semakin baik air yang dihasilkan. Jika diameter butiran kecil maka
akan meningkatkan penyaringan [6]. Ukuran partikel berkaitan dengan distribusi
ukuran pori. Semakin kecil ukuran partikel yang digunakan maka semakin besar
kecepatan adsorbsinya. Serta semakin luas permukaan adsorben (zat penyerap),
maka semakin banyak adsorbat (zat terserap) yang dapat diserap, sehingga proses
adsorpsi dapat semakin efektif. Semakin kecil ukuran diameter partikel makan
semakin luas permukaan adsorben [7]. Distribusi ukuran pori mempengaruhi
distribusi ukuran molekul adsorbat yang masuk ke dalam pertikel adsorben [4]
Susunan filter berdasarkan pada
ukuran partikel media filter yaitu dari ukuran terbesar ke terkecil dari atas
ke bawah sehingga semakin rapat rongga pada media filter. Susunan dengan skala
laboraturium yaitu dari bawah ke atas sebagai berikut spon dan kapas setebal
3.80 cm, pasir halus 20 up mesh setinggi 3.80 cm, pasir kasar 4-8 mesh setinggi
2.50 cm, kerikil kecil 8-10 mesh setinggi 2.50 cm, kapas dan ijuk setebal 3.80
cm, Granular Activated Carbon (GAC) 6-8 mesh setinggi 3.80 cm, kapas dan
ijuk setebal 3.80 cm, zeolit 16-32 mesh setinggi 3.80 cm, dan kerikil besar
16-32 mesh setinggi 2.50 cm.
Media filter yang menyusun pipa filter memiliki peran
penting masing-masing. Kerikil besar menyaring pengotor dengan ukuran besar.
Zeolit berperan mengadsorpsi antara
adsorben (zat penjerap) dan adsorbat (zat terjerat) serta
menyaring zat padatan karena ruang hampa pada zeolit [8]. Prinsip zeolit lain
yaitu penukar ion untuk menjaga kenetralan. Granular Activated Carbon (GAC)
berperan mengadsorpsi baik secara fisik dan kimia. Adsorpsi fisik terjadi karena
adanya ikatan Van der waals, dan bila ikatan tarik antar molekul zat terlarut
dengan zat penyerapnya lebih besar dari ikatan antara molekulzat terlarut
dengan pelarutnya maka zat terlarut akan dapat diadsorpsi [7]. Adsorpsi kimia
merupakan hasil dari reaksi kimia antara molekul adsorbat dan adsorban dimana
terjadi pertukaran elektron [9]. Zeolit dan GAC dapat mengadsorpsi zat terlarut
penyebab rasa, warna, aroma kurang baik serta mengadsorpsi mineral dan logam
berat. Kerikil kecil dan pasir halus menyerap zat padatan atau kotoran yang
masih lolos dari media filter sebelumnya
Air kali (gelas A) dialirkan pada rancangan filtrasi dengan
tiga kali pengulangan filtrasi. Hasil keluaran diamati berdasarkan karateristik
secara fisik yaitu kekeruhan, warna dan bau. Gelas B merupakan hasil filtrasi
dari air gelas A. Tampak perubahan sangat signifikan secara kenampakan fisik
air. Produk keluaran yang dihasilkan dapat dilihat kejernihan semakin meningkat
dengan semakin banyaknya pengulangan filtrasi. Kejernihan air dengan
pengulangan filtrasi 3 kali (gelas D) lebih jernih dari air minum (gelas E).
Rancangan pengolahan filtrasi diapilkasikan untuk air hujan
keruh berlumut, air sirup dan air kopi kental dalam sekali penyaringan dan
dapat terlihat perubahan warna secara signifikan. Air hujan yang menguning dan
berlumut (gelas A) menjadi air bersih (gelas B) yang jernih dan tidak berlumut
seperti air bersih setelah melewati filter. Air sirup (gelas C) yang berwarna
merah muda menjadi bening seperti air bersih (gelas D). Air kopi (gelas F) yang
berwarna hitam pekat dan kental dari bubuk kopi menjadi jernih bening dan tidak
berpasir setelah melewati filtrasi karena bubuk kopi terperangkat pada media
filter. Secara dominan perubahan air dipengaruhi oleh peran media filter GAC (Granular
Activated Carbon) dan zeolit yang memiliki sifat menyerap atau adsorpsi.
2. Karakterisasi Air Hujan
dan Air Hasil Filtrasi Termodifikasi
Hasil karakteristik fisik, kimia dan biologi air hujan
dibandingkan dengan air hasil filtrasi air hujan dan standar baku mutu sesuai
dengan Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang syarat-syarat
dan Pengawasan Kualitas Air Bersih [10].
Berdasarkan data hasil pengujian, beberapa
parameter sudah masuk dalam Standar Baku Mutu sesuai dengan Peraturan Menteri
Kesehatan RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 dan aman untuk dikonsumsi. Namun secara
estetika air hujan tidak layak untuk dikonsumsi karena berdasarkan kenampakkan
air hujan berwarna kuning dan berlumut. Selain itu, air hujan memiliki
karaketeristik yang berubah dan bisa menjadi berbahaya untuk dijadikan air
bersih tergantung pada tempat dan waktu hujan turun.
3. Kesadahan
Nilai kesadahan pada air hujan
Kota Malang sebelum difiltrasi adalah 39.60 mg/L kemudian menjadi 34 mg/L
setelah difiltrasi dengan sistem modifikasi filtrasi. Sistem filtrasi tersebut
dapat menurunkan kesadahan hingga 5.60 mg/L. Apabila dibandingkan dengan
standar baku mutu dari Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 nilai kesadahan
air hujan sebelum difiltrasi dan dan air hasil filtrasi sistem modifikasi
filtrasi sudah memasuki standar yang berlaku yaitu maksimal 500 mg/L.
Proses hujan dapat terjadi
karena air permukaan mengalami penguapan yang dibawa ke dataran tinggi.
Sedangkan air permukaan memiliki sifat lebih lunak atau kesadahan rendah
dibandingkan dengan air tanah. Kesadahan air hujan di Kota Malang yaitu sebesar
39.60 mg/L termasuk dalam tingkat lunak atau kesadahan sangat rendah [11].
Zeolit memiliki sifat adsorben dan sebagai ion exchange dengan
mengalirkan air hujan pada filter zeolit akan melepaskan Na dan digantikan
dengan mengikat Ca dan Mg. Sedangkan arang aktif mempunyai kemampuan menyerap
Ca dan Mg yang merupakan penyebab utama air sadah. Zeolit memiliki muatan
negatif karena keberadaan atom aluminium di dalamnya. Muatan negatif yang
menyebabkan zeolit dapat mengikat kation-kation dalam air seperti Fe, Al, Ca
dan Mg. pengaliran air pada filter zeolit, kation tersebut akan diikat oleh
zeolit yang bermuatan negatif. Selain itu zeolit mudah melepaskan kation dan
digantikan zeolit lain. Serta arang aktif memiliki luas permukaan besar dengan
pori-pori terbuka sehingga memiliki daya serap yang dapat mennghilangkan
partikel-partikel [12].
4. Besi dan Mangan
Berdasarkan data hasil
pengamatan diketahui bahwa kadar besi pada air hujan Kota Malang sebelum
difiltrasi adalah <0.26 mg/L kemudian menjadi tidak terdeteksi setelah
difiltrasi dengan sistem modifikasi filtrasi. Hasil air filtrasi tidak
terdeteksi karena batas terendah dalam deteksi dengan spektrofotometer yaitu
MDL <0.02. Penurunan ini terjadi akibat adanya proses oksidasi Fe2+ menjadi Fe3+ oleh kandungan
bakteri pada media maupun oksigen terlarut pada air. Apabila dibandingkan
dengan standar baku mutu dari Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 kadar
besi air hujan sebelum difiltrasi dan dan air hasil filtrasi sistem modifikasi
filtrasi sudah memasuki standar yang berlaku yaitu maksimal 1 mg/L.
Berdasarkan data hasil
pengamatan diketahui bahwa kadar mangan pada air hujan Kota Malang sebelum
difiltrasi adalah 0.01 mg/L kemudian menjadi tidak terdeteksi setelah
difiltrasi dengan sistem modifikasi filtrasi. Sistem filtrasi tersebut dapat
menurunkan kadar mangan pada air hujan. Hasil air filtrasi tidak terdeteksi
karena batas terendah dalam deteksi dengan spektrofotometer yaitu MDL <0.01.
Penurunan ini terjadi akibat adanya proses oksidasi Mn2+ menjadi Mn4+ oleh kandungan
bakteri pada media maupun oksigen terlarut pada air. Apabila dibandingkan
dengan standar baku mutu dari Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 kadar
mangan air hujan sebelum difiltrasi dan air hasil filtrasi sistem modifikasi
filtrasi sudah memasuki standar yang berlaku yaitu maksimal 0.50 mg/L.
Penurunan
besi dan mangan disebabkan oleh adanya oksidasi. Besi dalam air mengalami
aerasi sehingga ion ferro (Fe2+) teroksidasi menjadi ion ferri (Fe3+) dengan
bantuan bakteri pada media maupun oksigen terlarut dalam air serta dapat
membentuk Fe(OH)3 pada air yang bersifat presipitasi sehingga dapat mengendap
pada media pasir. Sama halnya dengan mangan, penyisihan mangan disebabkan oleh
proses oksidasi Mn2+ menjadi Mn4+ oleh bakteri maupun kandungan oksigen
terlarut dalam air. Media filter zeolit berfungsi dalam menghilangkan zat besi
dan berfungsi sebagai katalis. Waktu bersamaan
besi dan mangan yang ada dalam
air akan teroksidasi menjadi bentuk ferri-oksida dan mangan-dioksida yang tidak
larut dalam air [13]. Reaksi sebagai berikut:
K2Z.MnO.Mn2O7 + 4Fe(HCO3)2 à K2Z
+ 3MnO2 + 2Fe2O3 + 8CO2 + 4H2O
K2Z.MnO.Mn2O7 + 2Mn(HCO3)2 à K2Z + 5MnO2 + 4CO2 + 2H2O
Reaksi penghilangan besi dan
mangan menggunakan zeolit tidak dengan proses pertukaran ion tetapi reaksi dari
Fe2+ dan
Mn2+ dengan
oksida mangan tinggi menghasilkan filtrat yang mengandung ferri-oksida dan
mangan-dioksida yang tidak larut dalam air dan dapat dipisahkan dengan pengendapan
dan penyaringan. Hal ini fungsi dari media pasir yang dapat menyaring
partikel-partikel kecil. Media filter karbon aktif akan menyerap ion-ion logam
pada permukaan arang aktif tersebut [13].
5. pH
Berdasarkan data hasil
pengamatan diketahui bahwa nilai pH pada air hujan sebelum difiltrasi adalah
7.40 dan menjadi 7.30 setelah difiltrasi. Modifikasi filtrasi tersebut
mengakibatkan adanya penurunan pada pH. Apabila dibandingkan dengan standar
baku mutu dari Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 ph air hujan sebelum
difiltrasi dan air hasil filtrasi sistem modifikasi filtrasi sudah memasuki
standar yang berlaku yaitu sekitar 6.90 – 9.
pH akan mempengaruhi
konsentrasi logam berat di perairan. Kondisi pH lebih kecil dari 6.50 atau
lebih besar dari 9.20 akan menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa air dan dapat
mengakibatkan beberapa senyawa kimia berubah menjadi racun yang dapat
mengganggu kesehatan karena kelarutan logam berat akan lebih tinggi pada pH
rendah, sehingga menyebabkan toksisitas logam berat semakin besar [14]. pH air
hujan 7.40 menyebabkan logam berat seperti besi, mangan, klorida dan fluorida
bersifat aman dan jumlah yang rendah.
6. Klorida
Berdasarkan data hasil
pengamatan diketahui bahwa kadar klorida pada air hujan Kota Malang sebelum difiltrasi
adalah 7 mg/L kemudian menjadi 6 mg/L setelah difiltrasi dengan sistem
modifikasi filtrasi. Sistem filtrasi tersebut dapat menurunkan kadar klorida
pada air hujan sebanyak 1 mg/L. Apabila dibandingkan dengan standar baku mutu
dari Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 kadar mangan air hujan sebelum
difiltrasi dan air hasil filtrasi sistem modifikasi filtrasi sudah memasuki
standar yang berlaku yaitu maksimal 600 mg/L. Penurunan kadar klorida
disebabkan oleh peran karbon aktif yang dapat menyerap garam-garam mineral yang
ada dalam perairan. Karbon aktif memiliki sifat adsorpsi secara fisik yang
terjadi karena ikatan Van der Waals yaitu ikatan tarik antar molekul zat
terlarut dan zat penyerapnya yaitu klorida yang berikatan dengan karbon aktif
[7]. Serta sifat zeolit yang memiliki volume dan ukuran ruang hampa yang besar
dalam kristalnya maka dapat mneyaring zat-zat terlarut dalam air.
7. Fluorida
Berdasarkan
data hasil pengamatan diketahui bahwa kadar fluorida pada air hujan Kota Malang
sebelum difiltrasi adalah 0.34 mg/L kemudian menjadi 0.32 mg/L setelah
difiltrasi dengan sistem modifikasi filtrasi. Sistem filtrasi tersebut dapat
menurunkan kadar fluorida pada air hujan. Apabila dibandingkan dengan standar
baku mutu dari Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 kadar fluorida air hujan
sebelum difiltrasi dan air hasil filtrasi sistem modifikasi filtrasi sudah
memasuki standar yang berlaku yaitu maksimal 1.50 mg/L. Penurunan kadar
fluorida disebabkan oleh peran karbon aktif yang dapat menyerap garam-garam
mineral yang ada dalam perairan. Adanya adsorpsi secara fisik yang terjadi
karena ikatan Van der Waals yaitu ikatan tarik antar molekul zat terlarut dan
zat penyerapnya yaitu fluorida yang berikatan dengan karbon aktif. Serta sifat
zeolit yang memiliki volume dan ukuran ruang hampa yang besar dalam
kristalnya maka dapat mneyaring zat-zat terlarut dalam air [7].
8. Total Dissolved Solid (TDS)
Berdasarkan data hasil
pengamatan, air hujan Kota Malang memiliki nilai Total Dissolved Solid (TDS)
sebesar 136 mg/L kemudian menjadi 116 mg/L setelah difiltrasi dengan sistem
filtrasi modifikasi. Apabila dibandingkan dengan standar baku mutu dari
Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 nilai TDS air hujan sebelum difiltrasi
sudah memasuki standar yang berlaku yaitu maksimal 1500 mg/L. Sistem modifikasi
filtrasi tersebut membuat nilai TDS air hujan mendekati nol dapat dilihat dari
penurunan nilai TDS. Karbon aktif membentuk amorf yang sebagian besar terdiri
dari karbon bebas dan memiliki permukaan berrongga. Luas permukaan karbon aktif
berkisar antara 300-3500 m2/gr dan berhubungan dengan pori internal yang
menyebabkan karbon aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa terlarut
[15].
9. Kekeruhan
Berdasarkan data hasil pengamatan,
air hujan Kota Malang memiliki kekeruhan sebesar 1.05 NTU (Nephelometry
Turbidity Unit) kemudian menjadi 1.02 NTU setelah difiltrasi dengan sistem
filtrasi modifikasi. Apabila dibandingkan dengan standar baku mutu dari
Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 nilai kekeruhan air hujan sebelum
difiltrasi dan air hasil filtrasi memasuki standar yang berlaku yaitu maksimal
25 NTU. Modifikasi filtrasi dapat menghilangkan partikel tersuspensi dan koloid
seperti lumpur, senyawa organik dan anorganik dengan ukuran sangat halus,
plankton, dan mikroorganisme mikroskopik penyebab air keruh [16]. Hal ini
karena peran media zeolit yang mampu mengadsorpsi dan menyaring molekul organik
yang larut dan koloid yang menyebabkan air keruh dikarenakan struktur zeolit
berongga serta karbon aktif membentuk amorf yang sebagian besar terdiri dari
karbon bebas dan memiliki permukaan berrongga. Luas permukaan karbon aktif
berkisar antara 300-3500 m2/gram dan berhubungan dengan pori internal yang
menyebabkan karbon aktif dapat mengadsorpsi gas dan senyawa-senyawa terlarut
[15].
10. Organoleptik (Warna dan
Aroma)
Berdasarkan data hasil
pengamatan laboraturium, air hujan Kota Malang memiliki nilai warna sebesar
<0.26 Pt.Co. Nilai warna pada air hujan setelah difiltrasi dengan sistem
filtrasi modifikasi didapatkan sebesar <0.26 Pt.Co. Apabila dibandingkan
dengan standar baku mutu dari Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 nilai
warna air hujan sebelum difiltrasi sudah memasuki standar yang berlaku yaitu
maksimal 50 Pt.Co. Pengujian fisik juga perlu dilakukan secara organoleptik.
Uji organoleptik dilakukan oleh 20 panelis yang tidak berpengalaman untuk
menguji kepekaan indra dalam membedakan antar produk. Uji organoleptik
dilakukan pada 4 sampel yaitu A1 (air hujan dari atap), A2 (air hujan dari
langit), A3 (air hasil filtrasi termodifikasi dari air hujan atap), A4 (air
PDAM).
Uji
organoleptik warna dinilai dengan adanya 5 skala numerik yaitu 1 jernih sekali,
2 jernih, 3 biasa, 4 keruh dan 5 keruh sekali. Uji organoleptik warna menggunakan
uji Friedman. Uji Friedman diujikan pada 3 perlakuan yaitu A1, A2 dan A3 dengan
tingkat kesalahan 5% (α = 0.05). Hasil menunjukkan terdapat perbedaan warna
yang signifikan masing-masing sampel. Uji organoleptik aroma dengan 2 penilaian
yaitu beraroma (B) dan tidak beraroma (TB). Uji organoleptik aroma menggunakan
uji One Proportion. Uji One Proportion diujikan pada 2 perlakuan yaitu A1 dan
A2 dengan tingkat kesalahan 5% (α = 0,05). Berdasarkan hasil uji One Sample
Proportion pada perlakuan masing-masing, disimpulkan sampel-sampel pada A1 dan
A2 cenderung beraroma. Sedangkan A3 dan A4 dinilai seluruh panelis tidak
beraroma. Warna keruh dan aroma tidak biasa pada air disebabkan oleh zat-zat
organik yang terlarut dari partikel hasil pembusukan bahan organik, ion-ion
metal alam (besi dan mangan), plankton, humus, dan tanaman. Media adsorpsi
seperti karbon aktif dapat menjernihkan warna air yang keruh karena menyerap
senyawa-senyawa organik yang menimbulkan warna keruh dan aroma tidak sedap
[15].
Berdasarkan data hasil
pengamatan diketahui bahwa total koliform pada air hujan Kota Malang sebelum
difiltrasi adalah 5 MPN/100 ml kemudian menjadi 2 MPN/100 ml setelah difiltrasi
dengan sistem modifikasi filtrasi. Apabila dibandingkan dengan standar baku
mutu dari Permenkes RI No. 416/MENKES/PER/IX/1990 total koliform air hujan
sebelum difiltrasi dan air hasil filtrasi sistem modifikasi filtrasi sudah
memasuki standar yang berlaku yaitu maksimal 50 MPN/100 ml. Kemampuan zeolit
sebagai ion exchanger dan digunakan sebagai penghilang polutan kimia.
Dalam air zeolit juga ternyata mampu mengikat bakteri E.coli. Hal ini
dikarenakan zeolit dapat berfungsi sebagai perisai penyaringan fisik untuk
bakteri pathogen (bakteri dan spora) [17]. Mekanisme zeolit alam Malang Selatan
untuk dapat mengadsorpsi dan menghambat pertumbuhan mikroba Salmonella typhi
antara lain: Salmonella typhi merupakan bakteri gram negatif dengan
bentuk koloni berupa basilus (batang), dengan diameter 1.20 μm. Zeolit alam
Malang selatan (mordernit) mempunyai diameter ruang kosong atau pori-pori
sebesar 2.90 - 7 Å. [18]. Ukuran diameter pori mordernit yang lebih kecil dari
diameter bakteri menunjukkan bahwa bakteri Salmonella typhi bakteri tidak dapat
melintasi atau masuk dalam pori-pori dari struktur kristal zeolit dan mekanisme
yang mungkin adalah bakteri teradsorpsi di atas permukaan zeolit alam Malang
selatan [19]. Selain itu Salmonella typhi mempunyai dinding sel yang
bersifat lipopolisakarida, dimana untuk menjaga kestabilan dari dinding sel
tersebut diperlukan ion Ca2+ yang banyak terdapat disekitar dinding sel bakteri.
Zeolit merupakan adsorben yang mempunyai kemampuan mengikat logam dari luar
untuk menetralkan muatannya, sehingga apabila ion Ca2+ bakteri
terikat oleh zeolit maka bakteri Salmonella typhi akan mengalami lisis
dan akhirnya dapat menyebabkan kematian dari sel bakteri [20].
SIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari
hasil penelitian ini adalah diketahui karakteristik fisik, kimia dan biologi
air hujan di Kota Malang sebagai berikut total padat terlarut 136 mg/l,
kekeruhan 1.05 NTU, suhu 24.600C, warna <0.26 Pt.Co, aroma (organoleptik)
beraroma, warna (organoleptik) keruh sekali, pH 7,4, KMnO4 0,9 mg/l,
fluorida 0,335 mg/l, klorida 7 mg/l, nitrit <0.001 mg/l, nitrat 0.53 mg/l,
sulfat 6.63 mg/l, kesadahan total sebesar 39.60 mg/l, deterjen 0.09 mg/l, arsen
<0.26 mg/l, besi <0.26 mg/l, mangan 0.01 mg/l, krom <0.01 mg/l,
sianida, cadmium, raksa, timbal, selenium, seng tak terdeteksi karena berada di
bawah batas deteksi. Data tersebut sudah memasuki standar baku mutu air bersih
dari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:
416/MENKES/PER/IX/1990 dan dioptimalkan dengan teknologi filtrasi yang
dimodifikasi sehingga didapatkan hasil pengamatan mengalami penurunan beberapa
parameter dasar yang berhubungan dengan kesehatan sebagai berikut total padat
terlarut 116 mg/l, kekeruhan 1.02 NTU, warna <0.26 Pt.Co, aroma
(organoleptik) tidak beraroma, warna (organoleptik) jernih, pH 7.30, fluorida
0.32 mg/l, klorida 6 mg/l, kesadahan total sebesar 34 mg/l, besi dan mangan tak
terdeteksi. Rancangan pengolahan filtrasi yang dimodifikasi cukup efektif dalam
mengoptimalkan karakteristik fisik, kimia dan biologi air.
DAFTAR PUSTAKA
1)
World Health Organization. 2000. The World Health Report 2000 - Health Systems:
Improving Performance. World Health Organization Assesses The World's Health
Systems.
2)
Suara pembaruan daily. 2003. Kerusakan Lingkungan Penyebab Utama Kekeringan.
www.suarapembaruan.com. Tanggal akses: 14/03/2013
3)
Sehgal, V. 2006. The Textbook of Clinical Dermatology. Forth Edition. Jaypee
Brother Medical Publisher. 59-62.
4) Cheremisinoff, N.P. and A.C.
Moressi. 1978. Carbon Adsorption. Handbook. Ann Arbour. Ann Arbour Science. New
Delhi.
5)
Pangidoan. 2013. Pengolahan Air Bersih Dilingkungan Kampus Universitas Pasir
Pengaraian Dengan Sistem Up Flow. Fakultas Teknik. Universitas Pasir
Pengaraian. Medan.
6)
Sularso, A. D. 1998. Penurunan Tingkat Fe Dan Mn Air Sumur Dengan Kombinasi
Aerasi Proses Dan Proses Saringan Pasir Cepat. Housing II Tangerang Jawa Barat.
(Tesis). STTL YLH. Yogyakarta.
7)
Reynolds. 1982. Unit Operation and Processes in Environmental Engineering,
Texas A&M University, Brook/Cole Engineering Division. California.
8)
Tchobanoglous, G. 1991 . Wastewater Engineering: Treatment, Disposal, and
Reuse/Metcalf & Eddy,Inc. 3rd Edition. McGraw-Hill Inc. New York.
9)
Benefield, Judkins, Weand. 1982. Process Chemistry For Water And Wastewater
Treatment. Prentice Hall Inc. New Jersey.
10)
Departemen Kesehatan RI, 1990. Permenkes RI No. 416 Tahun 1990 Tentang
Syarat-Syarat Pengawasan Kualitas Air. Jakarta.
11)
Peavy and Howard S. 1985. Environmental Engineering. McGraw-Hill. Singapura
12)
Kusnaedi. 2010. Mengolah Air Kotor Untuk Air Minum. Penebar Swadaya. Jakarta.
13) Wahyu,
W. 2002. Teknologi Pengolahan Air Minum Dari Air Baku Yang Mengandung Kesadahan
Tinggi. Pusat Teknologi Lingkungan. BPPT. JAI Vol.4 No.1 2007
14)
Sanropie, D. 1984, Pedoman Studi Penyedian Air Bersih Akademi Penilik Kesehatan
Teknologi Sanitasi, Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
15)
Sri, W. 1867. Kinerja Pengolahan Air Bersih Dengan Filtrasi Dalam Mereduksi
Kesadahan.
16)
Davis, M. L. and D. A. Cornwell. 1991. Introduction to Environmental
Engineering. Second edition. Mc-Graw-Hill, Inc. New York.
17)
Awaluddin. 2007. Teknologi Pengolahan Air Tanah sebagai Sumber Air Minum pada
Skala Rumah Tangga. Jakarta.
18)
Arthur A. dan R. B Sund. 1980. Teaching Science Through Discovery. Charles. E.
Merrill Publishing Co. Ohio.
19)
Gerard, B. 1994. Mikrobiologi Kedokteran. Edisi. Revisi. Jakarta. 174-175.
20) Schlegel, H. G. 1994.
Mikrobiologi Umum. Penterjemah Tedjo Baskoro. Edisi keenam. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.
Resume by Alvin Dwi P
thanks to Referensi By :
Tanti Untari1*, Joni Kusnadi*
1) Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, FTP Universitas Brawijaya Malang
Jl. Veteran, Malang 65145
*Penulis Korespondensi, Email: tantiuntari@yahoo.com
1) Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, FTP Universitas Brawijaya Malang
Jl. Veteran, Malang 65145
*Penulis Korespondensi, Email: tantiuntari@yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar